Home // Goresanku // Kisah sedih sore itu…

Kisah sedih sore itu…

Ketika mendapat kesempatan menulis Blog..aku kembali memutar memoriku… Kejadian ini sudah berlalu hampir dua tahun lalu, tapi begitu membekas di hatiku. Tidak ada maksud membuka luka lama…semata-mata karena aku ingin belajar menuliskannya kembali saja. Sebagai bagian dari goresan ceritaku….

Jadi begini ceritanya :

Aku seperti seorang wanita nakal yang merebut seorang suami dari seorang wanita baik hati dengan banyak anak, kemudian aku dengan teganya membuat wanita tersebut menjadi janda yang merana seumur hidup bersama anak-anaknya yang masih kecil atau bahkan aku seperti seorang pesakitan yang membunuh anak kesayangan dari sebuah keluarga bahagia dengan cara yang keji dan kejam

Sungguh, sore ini sangat berat untukku.. Ketika seharusnya aku konsentrasi dengan dahaga dan rasa lapar yang menyerang dikala ramadhan, pikiranku justru terbagi dan terkuras oleh peristiwa tak menyenangkan itu.

Di seberang sana, entah dimana…seorang wanita melolong-lolong bagaikan serigala yang kelaparan di malam bulan purnama. Seluruh kosakata kasar dan menyakitkan keluar dari mulutnya, suaranya begitu tegas, tajam, mengiris dan seolah diselingi tangis. Bagaikan rentetan peluru yang keluar dari senapan milik penembak jitu yang sedang mengeksekusi terpidana mati, ibu itu terus menyerangku dengan kemarahannya yang luar biasa. Sungguh tragis….

Kejadian sore ini berawal dari tidak clear-nya nilai seorang mahasiswa di tempatku bekerja. Sebut saja bu Aye (nama samaran), wanita kelahiran 50 tahun yang lalu itu tidak mendapatkan nilai lengkap seperti teman-teman sekelasnya di salah satu mata kuliah. Dalam deretan nilai tugas dan ujiannya, terdapat satu tanda IC (incomplete). Yang berarti juga ada salah satu komponen tugas yang diduga belum diselesaikan dengan baik.

Langkah pertama yang kulakukan dengan fenomena itu adalah langsung menghubungi dosen yang bersangkutan, dilanjutkan dengan cross check kepada mahasiswa agar dapat diambil kesimpulan. Selain itu, aku juga berkonsultasi dengan salah satu bos besar di bidang akademik di kantorku mengenai kasus ini. Sebenarnya kalau saja besok pagi bukan jadwal ujian prelim tertulis yang mensyaratkan nilai harus lengkap semua, maka kekosongan nilai ini tidak membuatku resah…dan mungkin juga insiden ini tidak akan terjadi sedasyat ini.

Aku menyadari bahwa ujian prelim dimana peserta program doktor yang telah menyelesaikan mata kuliahnya di semester tiga harus mengikuti ujian tersebut dengan baik sehingga dapat melanjutkan ke masa penulisan disertasi. Hasil akhir ujian tersebut hanya ada tiga kemungkinan yaitu lulus, mengulang atau DO- adalah hal terpenting dan menakutkan selama periode perkuliahan yang mereka jalani. Aku juga sadar bahwa ada banyak resiko yang menghadang jika mereka tidak dapat melewatinya dengan baik.

Tidak ada niatan bagiku untuk berbuat buruk, sungguh…tidak ada sedikitpun. Hasil cross check tugas tidak ada titik temu, ibu itu tetap saja diputuskan IC. Disisi lain, peserta yang dapat mengikuti prelim adalah peserta yang tidak memiliki nilai IC dan IPKnya diatas 3,25.

Setelah konsultasi dengan bos besar, beliau memutuskan kalau ibu tersebut dapat menunda untuk menyelesaikan nilai IC-nya dengan catatan  segera dibereskan dikemudian hari dan besok pagi, ia dan 32 teman seangkatannya dapat mengikuti ujian prelim tanpa ada halangan.

Hasil konsultasi ini mendorongku untuk menelfon dan menyampaikan kabar tersebut kepada ibu paruh baya itu. Harapannya sang ibu yang pada akhirnya melolong kepadaku itu tidak akan merasa terlalu khawatir dan bisa mempersiapkan dirinya untuk ujian esok pagi.

Sungguh tidak sesuai dengan yang kuharapkan, ternyata dayung tak bersambut. Niatan baik dalam diriku disalah artikan. Ibu itu marah sekali, ia merasa institusi pendidikan tempat ia menuntut ilmu yang berarti juga tempatku bekerja melakukan ketidakadilan. Ia mencerca seluruh hal yang ada di dalamnya. Ia mengolok segala hal yang ada dalam bayangannya. Ia mempersalahkan segala bentuk pelayanan yang didapatkannya. Ia mengadili seluruh institusi itu seadil-adilnya…sesuai dengan garis pemikirannya. Ia meraung, memaki, mencaci, meneriaki…seolah ia sedang dalam kerangkeng penyiksaan yang dilakukan di jaman kompeni (hahahaha..lebay yach)

Berkali-kali kusampaikan dengan suara nyaringku yang tertahan, bahwa aku tidaklah bermaksud buruk. Bahwa aku hanya ingin menyampaikan kabar yang baik..bahwa aku ingin membuatnya tenang dalam mempersiapkan perjuangannya untuk esok hari.

Suaraku bagaikan suara siput dipinggir pantai, tak terdengar karena kalah dengan kerasnya deburan ombak. Pembelaanku bagaikan suara roda sepeda reot yang terus dikayuh dalam turunan yang terjal, terkesampingkan…

Aku merinding setiap kali lolongan itu meninggi, aku sedih setiap kali mengingat apa yang dibicarakannya mengadiliku dan lingkunganku. Aku nelangsa, seolah apa yang selama ini kudedikasikan untuknya dan teman-temannya sebaik mungkin tidak ada artinya…bahkan jauh ada dibawah garis harapannya.

Tangisku pecah… aku berlari menuju sebuah ruang dimana ada orang yang kuanggap sebagai pelindungku. Ia bos besar. Nampak ditangannya lembaran-lembaran kertas soal untuk ujian prelim esok pagi yang tadi siang sengaja kuberikan padanya. Awalnya ia tak tahu, kalau mata sipitku sudah tak kuat menahan derasnya tangis. Namun, saat disadarinya bahwa aku tidak sedang berdiri ceria di sampingnya, wajahnya pun tampak keheranan. Ia memperlihatkan simpati layaknya seorang pemimpin pada bawahannya..mungkin juga seorang ayah pada anaknya. Disampaikannya pertanyaan demi pertanyaan dengan lirih dan hati-hati. Ia mencoba menenangkanku dengan tatapannya, ia mencoba mengurangi sedihku dengan senyumnya. Ditengah tangisku yang pecah dan dadaku yang sesak, sempat terdengan sebuah kata yang cukup menyejukkanku ” tidak seharusnya kamu menagis. Kamu sudah melakukan hal terbaik. Kami akan selalu mendukungmu”.

Kata itu bagaikan segelas air yang akan kureguk setelah Adzan berkumandang di bulan ramadhan ini. Sungguh menyejukkan…

Rasa bersalahku yang menggila seolah menghilang begitu saja…bayangan bahwa aku penjahat tak termaafkan luluh lantak tak berbekas. Kulihat bayangan seorang wanita yang bahagia dengan suami dan anak-anaknya, tidak ada tanda-tanda kejahatan. Apalagi penganiayaan…

Aku kembali tersadar pada keceriaanku, lelehan air mataku tlah kering dihapus sebuah simpati dan kepercayaan. Senyum kelegaan tersungging malu-malu dibawah mata dan hidung yang memerah didera tangis.

Terima kasih Tuhan.. Hari ini aku belajar hal baru, bahwa apa yang kita anggap baik…tidaklah selalu dapat diterima dengan baik oleh orang lain.

Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku sehingga Engkau memberiku kesempatan menghadapi cerita sedih sore ini.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengaugerahi aku seorang pemimpin baik lagi bijak. Terima kasih untuk mengajarkanku memaafkan…walaupun aku masih belum bisa belajar melupakan.

Lepas dari cerita sedih ini, aku mengajak salah satu teman seruanganku untuk menghibur diri sambil berbuka puasa di McD. Belum sempat aku bercerita tentang kejadian yang menimpaku..tapi tiba-tiba dengan santai ia berkomentar “ Eh, widut…ngapain sich lu nangis gitu..kaya orang habis dinodai ajah”. Wuuuaaaaaa,,,,,,aku jadi ngakak mendengar komentar yang meluncur seolah tanpa dosa itu. Dan aku membalas dengan satu kata “dasar anak LEBE lu !!!” .

Posted in Goresanku