Home // Goresanku // Selalu ada Rindu untukmu

Selalu ada Rindu untukmu

Kota ini sudah menjadi bagian hidupku. Akhir Juli 2002, aku dan Ayahandaku tercinta untuk pertama kalinya menjejakkan kaki ke kota kecil nan elok ini. Beban berat menggelayuti langkahku ketika enam tahun yang lalu kutinggalkan kota kelahiranku beserta jutaan kenangan indah demi cita-cita mulia untuk melanjutkan episode hidup dalam jenjang pendidikan lebih tinggi. Berbekal kepolosan dan pedihnya meninggalkan sejumput cinta pertama, kulangkahkan kakiku menuju bangku perkuliahan. Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah jalan hidupku.

Sebuah kebodohan jika aku larut dalam kesedihan akan masa lalu, karena ternyata Bogor memberikan sesuatul yang jauh lebih indah ketimbang sebelumnya. Ada persahabatan, ada kesenangan, ada tantangan dan tentunya ada cinta baru. Masih jelas dalam memoriku ketika aku dan ribuan teman sebayaku berjalan beriringan mengenakan baju seragam hitam putih lengkap dengan aksesoris pita-pita pertanda ‘anak baru’. Di bawah panas terik kami berlarian mengikuti komando yang mengukuhkan bahwa kakak senior memiliki kuasa. Kami bernyanyi mendendangkan lagu-lagu perjuangan khas mahasiswa, berteriak lantang mengumandangkan yel-yel yang kalau dipikir-pikir lebih condong kepada narsisme angkatan.

“ Paling brilliant, kuliah di institut pertanian,

Paling Ceria, semuanya selalu bergembira

Paling dasyat, semuanya saling bersahabat

Paling fungky, itulah kami

Wooiiii…tiga sembilan”

Kira-kira begitu yel-yel kami. Riuh rendah suara tiga ribu mahasiswa membahana. Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari mereka yaitu menjadi bagian dari angkatan 39 (istilah untuk penamaan angkatan didasarkan pada umur IPB)..

Masa itu gedung besar bercat cokelat muda dengan pemanis merah tua yang di dalamnya terdapat lorong-lorong kecil dengan ribuan kamar menjadi istanaku. Disana aku dan 3000 mahasiswa TPB lainnya berjuang di ladang ‘pembantaian’. Ngeri rasanya kalau pada Tingkat Persiapan Bersama ini kami harus tersingkir gara-gara tidak becus mengerjakan soal-soal njlimet integral, logaritma, persamaan dan tetek bengeknya. TPB memang sering disebut Tingkat Pembantaian Bersama, karena pada masa itulah kami diseleksi dan dibantai habis-habisan dengan mata kuliah dasar seperti PPKN, Agama, Bahasa Inggris, Matematika Dasar, Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar bahkan sampai ke Olahraga dan seni. Tidak sedikit yang harus pulang ‘tereliminasi’ gara-gara IPKnya kurang dari 2 koma Alhamdulillah (standar IPB 2,75 ).

Disela rutinitas kuliah, seringkali aku menyusuri jalanan penuh pedagang kaki lima dengan sejuta pesona jajanan murah meriah ala mahasiswa, kami menyebutnya BARA alias Babakan Raya. Uniknya sebelum keluar menuju Bara kalau dari arah Asrama Putri kami harus melewati tembok dengan lubang yang hanya muat dilewati dua orang dan itu pun harus menunduk. Entah bagaimana asal muasalnya tembok itu di sebut tembok Berlin. Hmmm…sungguh jauh dari keadaan tembok Jerman yang angkuh dengan sejuta kisah perang dinginnya itu. Disepanjang tembok Berlin dapat kami jumpai deretan warteg, penjual kerudung, perkakas rumah tangga hingga warung kopi. Ada juga warung On-onan (red-sebenanrnya merujuk kata ONS yaitu satuan berat). Warung yang dimaksud adalah warung aneka jajanan kering mulai dari roti, krupuk hingga kwaci dan kata ons itu menggambarkan kemampuan mahasiswa IPB hanya mampu beli per-ons saja untuk masing-masing jenisnya.

Di setiap hari Minggu pagi biasanya berduyun-duyun mahasiswa ataupun masyarakat sekitar berlari mengelilingi kampus. Ada yang memang niatnya jalan-jalan, olahraga atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk menikmati indahnya pagi. Toh sepanjang jalan dipinggir kampus itu banyak jajanan yang memikat hati. Aku pun tak pernah melewatkan Minggu ceria itu untuk bergabung bersama mereka, bisa ditebak tentunya bukan buat olah raga…tapi buat nongkrongin si embak penjual nasi uduk. Wuiiidih…maknyus.

Oh iya…aku juga punya dunia baru di Bogor. Dunia yang mengenalkanku pada indahnya alam yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Saat itu aku masih tingkat satu, ketika hendak berangkat ke kampus aku melihat selembar spanduk yang kalau dilihat mirip dengan robekan karung goni yang lusuh tidak kepalang. Di spanduk itu tertulis ajakan yang profokatif untuk ikut dan bergabung dalam sebuah lembaga pecinta alam yang dinamakan Lawalata IPB. Nah…sejak kecemplung bersama teman-teman penggila alam dan lingkungan ini, bisa dipastikan kalau sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi aku sedang berjalan menyusuri dan menekuri pojok demi pojok Gunung Salak nan elok itu. Bersama Lawalata juga aku mendapat kesempatan untuk menjelajahi Gunung di Jawa Barat hingga ke Kalimantan Barat, menapaki luasnya Taman Nasional Komodo di NTB dan mengenal indahnya kehidupan masyarakat adat di Banten Kidul. Tidak hanya kesenangan jalan-jalan, aku juga mendapatkan kebahagiaan memiliki persahabatan penuh makna dan yang paling aku syukuri adalah aku mendapatkan cinta baru.

Ahoy…Indah nian kota ini. Sejuta kisah dan pesonanya membuat jalinan pelangi di hatiku. Hmmm Buitenzorg…bagiku akan selalu ada rindu untukmu.


Posted in Goresanku