Segera menjadi Ibu….

Aku kembali mengelus perutku yang bergejolak, kali ini bukan karena aku lapar. Tapi karena buah hatiku aktif bergerak terus. Hmm…tak terasa, usia kehamilanku sudah mencapai sembilan bulan. Dan itu artinya, rasa deg-degan akan kejadian yang menyeramkan yang mungkin belum tentu terjadi saat persalinan nanti, rasa takut karena belum tahu proses yang sesungguhnya, rasa ngeri akan sakit saat melahirkan, rasa penasaran akan wajah buah hatiku, rasa was-was akan kegagalan..dan ribuan rasa yang aku sendiri kadang bingung mengkalisifikasikannya tumpah ruah menjadi satu. Sungguh, aku menjadi semakin sensitive akhir-akhir ini. Kadangkala aku sering bertanya-tanya, apakah ibu hamil lainnya juga sepertiku..atau hanya aku saja yang merasakannya karena aku sedang ‘lebay’. Entahlah…

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sepertinya baru kemarin aku mendengar kata yang begitu menyejukkan keluar dari calon suamiku “saya terima nikah dan kawinnya……” lalu disusul dengan air mata bahagia yang berdera-derai diselingi senyum penuh makna. Tapi, kalau dihitung-hitung ternyata proses itu sudah berjalan hampir dua tahun dan perut gendut ini menjadi salah satu output dari sebagian proses yang disebut pernikahan itu.

Gendut ini, bukanlah kata basa-basi seperti seorang wanita yang malu-malu saat dipuji oleh kekasihnya “wah kayanya sayangku langsingan nech!!” lalu ia berucap “ah, masa sich..aku gendut begini juga” dengan kenyataan berat badannya masih normal dan semampai. Atau seperti Krisdayanti yang mengomentari lawan aktingnya dalam iklan ‘merit’ si pelangsing badan.  Gendut ini adalah gendut yang sesungguhnya…gendut yang bulat…gendut yang sebenar-benarnya gendut…kalau kata teman seruanganku sering mengatakan paus terdampar. Tapi tak apa-apa, aku lebih meyakini..bahwa gendut ini adalah anugerah..karena ada si buah hati lucu di dalamnya.

Lucu sekali, setiap hari hampir selalu ada kejutan baru dari perkembangan janin diperutku. Dari yang awalnya hanya berupa gambar titik yang berukuran sangat kecil, yang kata dokter kala itu adalah janin berumur 7 minggu, hingga gambar yang cukup jelas dengan gerakan atraktif yang bahkan tidak hanya cuma bisa dilihat melalui layar USG, tapi juga bisa dirasakan langsung melalui sentuhan diperutku. Sekarang gerakan-gerakan itu semakin nyata, menonjol disana-sini seolah dia sedang bermain dengan riang didalam ruang sempit di dalam perutku. Awalnya hanya malam hari menjelang tidurku ia bergerak aktif, lama-lama ia tak peduli waktu dan tempat..ia bergerak..bergerak..dan bergerak terus. Hingga aku kadang terlonjak kegelian karena gerakan buah hatiku ini. Senang rasanya…sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Semoga saja Allah mengijinkan dan memberikan kemudahan atas segala proses yang aku alami ini. Amiin….

Kisah sedih sore itu…

Ketika mendapat kesempatan menulis Blog..aku kembali memutar memoriku… Kejadian ini sudah berlalu hampir dua tahun lalu, tapi begitu membekas di hatiku. Tidak ada maksud membuka luka lama…semata-mata karena aku ingin belajar menuliskannya kembali saja. Sebagai bagian dari goresan ceritaku….

Jadi begini ceritanya :

Aku seperti seorang wanita nakal yang merebut seorang suami dari seorang wanita baik hati dengan banyak anak, kemudian aku dengan teganya membuat wanita tersebut menjadi janda yang merana seumur hidup bersama anak-anaknya yang masih kecil atau bahkan aku seperti seorang pesakitan yang membunuh anak kesayangan dari sebuah keluarga bahagia dengan cara yang keji dan kejam

Sungguh, sore ini sangat berat untukku.. Ketika seharusnya aku konsentrasi dengan dahaga dan rasa lapar yang menyerang dikala ramadhan, pikiranku justru terbagi dan terkuras oleh peristiwa tak menyenangkan itu.

Di seberang sana, entah dimana…seorang wanita melolong-lolong bagaikan serigala yang kelaparan di malam bulan purnama. Seluruh kosakata kasar dan menyakitkan keluar dari mulutnya, suaranya begitu tegas, tajam, mengiris dan seolah diselingi tangis. Bagaikan rentetan peluru yang keluar dari senapan milik penembak jitu yang sedang mengeksekusi terpidana mati, ibu itu terus menyerangku dengan kemarahannya yang luar biasa. Sungguh tragis….

Kejadian sore ini berawal dari tidak clear-nya nilai seorang mahasiswa di tempatku bekerja. Sebut saja bu Aye (nama samaran), wanita kelahiran 50 tahun yang lalu itu tidak mendapatkan nilai lengkap seperti teman-teman sekelasnya di salah satu mata kuliah. Dalam deretan nilai tugas dan ujiannya, terdapat satu tanda IC (incomplete). Yang berarti juga ada salah satu komponen tugas yang diduga belum diselesaikan dengan baik.

Langkah pertama yang kulakukan dengan fenomena itu adalah langsung menghubungi dosen yang bersangkutan, dilanjutkan dengan cross check kepada mahasiswa agar dapat diambil kesimpulan. Selain itu, aku juga berkonsultasi dengan salah satu bos besar di bidang akademik di kantorku mengenai kasus ini. Sebenarnya kalau saja besok pagi bukan jadwal ujian prelim tertulis yang mensyaratkan nilai harus lengkap semua, maka kekosongan nilai ini tidak membuatku resah…dan mungkin juga insiden ini tidak akan terjadi sedasyat ini.

Aku menyadari bahwa ujian prelim dimana peserta program doktor yang telah menyelesaikan mata kuliahnya di semester tiga harus mengikuti ujian tersebut dengan baik sehingga dapat melanjutkan ke masa penulisan disertasi. Hasil akhir ujian tersebut hanya ada tiga kemungkinan yaitu lulus, mengulang atau DO- adalah hal terpenting dan menakutkan selama periode perkuliahan yang mereka jalani. Aku juga sadar bahwa ada banyak resiko yang menghadang jika mereka tidak dapat melewatinya dengan baik.

Tidak ada niatan bagiku untuk berbuat buruk, sungguh…tidak ada sedikitpun. Hasil cross check tugas tidak ada titik temu, ibu itu tetap saja diputuskan IC. Disisi lain, peserta yang dapat mengikuti prelim adalah peserta yang tidak memiliki nilai IC dan IPKnya diatas 3,25.

Setelah konsultasi dengan bos besar, beliau memutuskan kalau ibu tersebut dapat menunda untuk menyelesaikan nilai IC-nya dengan catatan  segera dibereskan dikemudian hari dan besok pagi, ia dan 32 teman seangkatannya dapat mengikuti ujian prelim tanpa ada halangan.

Hasil konsultasi ini mendorongku untuk menelfon dan menyampaikan kabar tersebut kepada ibu paruh baya itu. Harapannya sang ibu yang pada akhirnya melolong kepadaku itu tidak akan merasa terlalu khawatir dan bisa mempersiapkan dirinya untuk ujian esok pagi.

Sungguh tidak sesuai dengan yang kuharapkan, ternyata dayung tak bersambut. Niatan baik dalam diriku disalah artikan. Ibu itu marah sekali, ia merasa institusi pendidikan tempat ia menuntut ilmu yang berarti juga tempatku bekerja melakukan ketidakadilan. Ia mencerca seluruh hal yang ada di dalamnya. Ia mengolok segala hal yang ada dalam bayangannya. Ia mempersalahkan segala bentuk pelayanan yang didapatkannya. Ia mengadili seluruh institusi itu seadil-adilnya…sesuai dengan garis pemikirannya. Ia meraung, memaki, mencaci, meneriaki…seolah ia sedang dalam kerangkeng penyiksaan yang dilakukan di jaman kompeni (hahahaha..lebay yach)

Berkali-kali kusampaikan dengan suara nyaringku yang tertahan, bahwa aku tidaklah bermaksud buruk. Bahwa aku hanya ingin menyampaikan kabar yang baik..bahwa aku ingin membuatnya tenang dalam mempersiapkan perjuangannya untuk esok hari.

Suaraku bagaikan suara siput dipinggir pantai, tak terdengar karena kalah dengan kerasnya deburan ombak. Pembelaanku bagaikan suara roda sepeda reot yang terus dikayuh dalam turunan yang terjal, terkesampingkan…

Aku merinding setiap kali lolongan itu meninggi, aku sedih setiap kali mengingat apa yang dibicarakannya mengadiliku dan lingkunganku. Aku nelangsa, seolah apa yang selama ini kudedikasikan untuknya dan teman-temannya sebaik mungkin tidak ada artinya…bahkan jauh ada dibawah garis harapannya.

Tangisku pecah… aku berlari menuju sebuah ruang dimana ada orang yang kuanggap sebagai pelindungku. Ia bos besar. Nampak ditangannya lembaran-lembaran kertas soal untuk ujian prelim esok pagi yang tadi siang sengaja kuberikan padanya. Awalnya ia tak tahu, kalau mata sipitku sudah tak kuat menahan derasnya tangis. Namun, saat disadarinya bahwa aku tidak sedang berdiri ceria di sampingnya, wajahnya pun tampak keheranan. Ia memperlihatkan simpati layaknya seorang pemimpin pada bawahannya..mungkin juga seorang ayah pada anaknya. Disampaikannya pertanyaan demi pertanyaan dengan lirih dan hati-hati. Ia mencoba menenangkanku dengan tatapannya, ia mencoba mengurangi sedihku dengan senyumnya. Ditengah tangisku yang pecah dan dadaku yang sesak, sempat terdengan sebuah kata yang cukup menyejukkanku ” tidak seharusnya kamu menagis. Kamu sudah melakukan hal terbaik. Kami akan selalu mendukungmu”.

Kata itu bagaikan segelas air yang akan kureguk setelah Adzan berkumandang di bulan ramadhan ini. Sungguh menyejukkan…

Rasa bersalahku yang menggila seolah menghilang begitu saja…bayangan bahwa aku penjahat tak termaafkan luluh lantak tak berbekas. Kulihat bayangan seorang wanita yang bahagia dengan suami dan anak-anaknya, tidak ada tanda-tanda kejahatan. Apalagi penganiayaan…

Aku kembali tersadar pada keceriaanku, lelehan air mataku tlah kering dihapus sebuah simpati dan kepercayaan. Senyum kelegaan tersungging malu-malu dibawah mata dan hidung yang memerah didera tangis.

Terima kasih Tuhan.. Hari ini aku belajar hal baru, bahwa apa yang kita anggap baik…tidaklah selalu dapat diterima dengan baik oleh orang lain.

Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku sehingga Engkau memberiku kesempatan menghadapi cerita sedih sore ini.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengaugerahi aku seorang pemimpin baik lagi bijak. Terima kasih untuk mengajarkanku memaafkan…walaupun aku masih belum bisa belajar melupakan.

Lepas dari cerita sedih ini, aku mengajak salah satu teman seruanganku untuk menghibur diri sambil berbuka puasa di McD. Belum sempat aku bercerita tentang kejadian yang menimpaku..tapi tiba-tiba dengan santai ia berkomentar “ Eh, widut…ngapain sich lu nangis gitu..kaya orang habis dinodai ajah”. Wuuuaaaaaa,,,,,,aku jadi ngakak mendengar komentar yang meluncur seolah tanpa dosa itu. Dan aku membalas dengan satu kata “dasar anak LEBE lu !!!” .

Kisah HOROOOOORRR…Ngeri be-ge-te

Kisah benar yang sangat mengerikan lagi menyeramkan ini terjadi kepada
seorang staff lelaki yang bekerja di tingkat 27 Gedung BNI 46.

Pada hari tersebut (hari Kamis malam Jum’at) beliau bekerja lembur dan
terpaksa pulang agak larut kira-kira jam 11 malam sendirian….!!!!!!

Sampai didepan lift, dia pun tekan tombol untuk turun. Kemudian, pintu lift
terbuka tanpa ada siapa2 didalamnya…Dia masuk dan tekan tombol “G” untuk
ke Ground floor. Tetapi entahmengapa, lift yang dia naiki itu terus naik ke
atas.

Ketika sampai ditingkat 30 lift tersebut berhenti. Dan pintu lift terbuka
kemudian masuklah seorang perempuan yang kelihatan sungguh cantik dan
menawan sekali sambil tersenyum manis. Dia tak pernah melihatnya sepanjang
bertugas di BNI.

Perempuan tadi pun masuk dan berdiridibelakangnya.

Diapun bertanya-tanya didalam hatinya… siapa perempuan itu, dan kenapa
sudah lewat malam belum pulang ke rumah. Mau disapa terasa malu pula,
jadi masing-masing saling diamlah.

Dalam suasana hening sepi itu, lift tersebut terus meluncur turun dari satu
tingkat kesatu tingkat.

Tiba ditingkat 18, lampu lift padam dan lift terhenti seketika dia mencium
bau yang teramat busuk, yang mengganggu hidungnya … dan bulu romanya
tiba-tiba saja merinding… dia pun mulai membaca ayat-ayat suci yang
terlintas di-ingatannya sambil memberanikan diri dan perlahan-lahan menoleh
kebelakang setelah lampu lift menyala. Tiba-tiba saja, perempuan yang
berada belakangnya ketawa….dan segera berkata
> > >
> > >…..
> > >
> > >>>>>>>> >>> > …> >>> > …> >>>
> > >
> > >>>>>>>> …
> > >
> > >>>>>>>> >>> > …> >>> > …> >>>
> > >
> > >>>>>>>> …
> > >
> > >>>>>>>> >>> > …> >>> > …> >>>
> > >
> > >>>>>>>> >>> > …> >>> > …> >>>
> > >
> > >>>>>>>> >>> > …> >>> > …> >>>
> > >
> > >>>>>>>> …
> > >
> > >>>>>>>> >>> > “Maaf ya ‘Mas, saya kentut….Anda tidak marahkan ?

Kembali ke Laptop

Beberapa waktu lalu,,,kita dihebohkan dengan pembagian laptop untuk anggota DPR. Ini sepenggal cerita dari kehebohan itu…

Anggota DPR: “Mba, laptopnya salah.”
Customer Service: “Salah gimana pak?”
Anggota DPR: “Laptopnya nggak mau hidup.”
CS: “Sudah tekan tombol power pak?”
Anggota DPR: “Tombol powernya sebelah mana mba?”

****

Anggota DPR: “Mba, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?”
Customer service: “Nggak bisanya kenapa?”
Anggota DPR: “Saya ketik HYPERLINK ” www.playboy. com”www.playboy. com,
gambarnya nggak keluar.”
Customer service: “Pesan errornya apa pak?”
Anggota DPR: “Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik playboy.com di
addressnya, nggak muncul gambar sama sekali.”

Customer service: “Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up, hotspot?”
Anggota DPR: “Pakai gambar yang ada tulisan e (maksudnya internet
explorer).”
Customer service: “Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP
apa, lalu
cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin
settingnya ada
yang salah.”
Anggota DPR: “ISP itu apa sih mba?”
Customer service: “Wah ini sih 50 x 2 pak..”
Anggota DPR: “Apa tuh mba?”
Customer service: “CAPE’ DEH!!”

******

Anggota DPR: “Mba’ saya ingin daftar account di yahoo.com kok nggak bisa
ya?”
Customer service: “Nggak bisa kenapa pak?”
Anggota DPR: “Ada tulisan, paswort is nat long inof, suld bi mor ten 8
karakter”

Customer service: “Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf.”
Anggota DPR: “Oooo…oke deh.., saya coba dulu.” <tunggu beberapa menit>
Anggota DPR: “Mba password minimal delapan huruf itu delapannya pakai
angka
8 atau ejaan delapan?”
Customer service: “Maksudnya?”
Anggota DPR: “Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf, tapi
bingung mau tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf
‘delapan’.”

Customer service: “Ketik ini aja pak..C Spasi D.”
Anggota DPR: “Apa tuh?”
Customer service: “CAPE’ DEH !!!”

****

Anggota DPR: “Mba’ kalau muter film di laptop, gimana caranya ya?
CS: “Ada dvd playernya kan pak?”
Anggota DPR: “Sebelah mana tuh mba?”
CS: “Disamping kanan, pak. kalau di tekan tombolnya
nanti, piringan discnya keluar.”
Anggota DPR: “Ooooo…. yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh
kemarin.”
CS: “Kok bisa patah?”
Anggota DPR: “Saya kira tempat buat naruh gelas minuman.”

******

Anggota DPR: “Komputer saya rasanya kena virus”
CS: “Virus apa tuh pak?”
Anggota DPR: “Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada
tulisan kennot fain printer.”
CS: “Itu mungkin salah setting pak.”
Anggota DPR: “Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi
sekarang nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop,
tetap
aja dia terus-terusan “searchng printer not found.” Kayanya webcamnya
rusak,
nggak bisa lihat printer.”

CS: “Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape..”
Anggota DPR: “Lho..kok begitu?”
CS: “TAPE DEH !!!!”

********

Anggota DPR: “Mba, kalau mau baca blognya artist TIARA LESTARI yang foto
bugil di Playboy Luar Negeri dimana ya?”
CS: “Bapak cari aja di google.”
Anggota DPR: “Tapi TIARA LESTARI nggak kerja di google kok mba, saya tahu
persis.”

Capeeek deeehhh….. ……… …. !!!!

Selalu ada Rindu untukmu

Kota ini sudah menjadi bagian hidupku. Akhir Juli 2002, aku dan Ayahandaku tercinta untuk pertama kalinya menjejakkan kaki ke kota kecil nan elok ini. Beban berat menggelayuti langkahku ketika enam tahun yang lalu kutinggalkan kota kelahiranku beserta jutaan kenangan indah demi cita-cita mulia untuk melanjutkan episode hidup dalam jenjang pendidikan lebih tinggi. Berbekal kepolosan dan pedihnya meninggalkan sejumput cinta pertama, kulangkahkan kakiku menuju bangku perkuliahan. Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah jalan hidupku.

Sebuah kebodohan jika aku larut dalam kesedihan akan masa lalu, karena ternyata Bogor memberikan sesuatul yang jauh lebih indah ketimbang sebelumnya. Ada persahabatan, ada kesenangan, ada tantangan dan tentunya ada cinta baru. Masih jelas dalam memoriku ketika aku dan ribuan teman sebayaku berjalan beriringan mengenakan baju seragam hitam putih lengkap dengan aksesoris pita-pita pertanda ‘anak baru’. Di bawah panas terik kami berlarian mengikuti komando yang mengukuhkan bahwa kakak senior memiliki kuasa. Kami bernyanyi mendendangkan lagu-lagu perjuangan khas mahasiswa, berteriak lantang mengumandangkan yel-yel yang kalau dipikir-pikir lebih condong kepada narsisme angkatan.

“ Paling brilliant, kuliah di institut pertanian,

Paling Ceria, semuanya selalu bergembira

Paling dasyat, semuanya saling bersahabat

Paling fungky, itulah kami

Wooiiii…tiga sembilan”

Kira-kira begitu yel-yel kami. Riuh rendah suara tiga ribu mahasiswa membahana. Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari mereka yaitu menjadi bagian dari angkatan 39 (istilah untuk penamaan angkatan didasarkan pada umur IPB)..

Masa itu gedung besar bercat cokelat muda dengan pemanis merah tua yang di dalamnya terdapat lorong-lorong kecil dengan ribuan kamar menjadi istanaku. Disana aku dan 3000 mahasiswa TPB lainnya berjuang di ladang ‘pembantaian’. Ngeri rasanya kalau pada Tingkat Persiapan Bersama ini kami harus tersingkir gara-gara tidak becus mengerjakan soal-soal njlimet integral, logaritma, persamaan dan tetek bengeknya. TPB memang sering disebut Tingkat Pembantaian Bersama, karena pada masa itulah kami diseleksi dan dibantai habis-habisan dengan mata kuliah dasar seperti PPKN, Agama, Bahasa Inggris, Matematika Dasar, Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar bahkan sampai ke Olahraga dan seni. Tidak sedikit yang harus pulang ‘tereliminasi’ gara-gara IPKnya kurang dari 2 koma Alhamdulillah (standar IPB 2,75 ).

Disela rutinitas kuliah, seringkali aku menyusuri jalanan penuh pedagang kaki lima dengan sejuta pesona jajanan murah meriah ala mahasiswa, kami menyebutnya BARA alias Babakan Raya. Uniknya sebelum keluar menuju Bara kalau dari arah Asrama Putri kami harus melewati tembok dengan lubang yang hanya muat dilewati dua orang dan itu pun harus menunduk. Entah bagaimana asal muasalnya tembok itu di sebut tembok Berlin. Hmmm…sungguh jauh dari keadaan tembok Jerman yang angkuh dengan sejuta kisah perang dinginnya itu. Disepanjang tembok Berlin dapat kami jumpai deretan warteg, penjual kerudung, perkakas rumah tangga hingga warung kopi. Ada juga warung On-onan (red-sebenanrnya merujuk kata ONS yaitu satuan berat). Warung yang dimaksud adalah warung aneka jajanan kering mulai dari roti, krupuk hingga kwaci dan kata ons itu menggambarkan kemampuan mahasiswa IPB hanya mampu beli per-ons saja untuk masing-masing jenisnya.

Di setiap hari Minggu pagi biasanya berduyun-duyun mahasiswa ataupun masyarakat sekitar berlari mengelilingi kampus. Ada yang memang niatnya jalan-jalan, olahraga atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk menikmati indahnya pagi. Toh sepanjang jalan dipinggir kampus itu banyak jajanan yang memikat hati. Aku pun tak pernah melewatkan Minggu ceria itu untuk bergabung bersama mereka, bisa ditebak tentunya bukan buat olah raga…tapi buat nongkrongin si embak penjual nasi uduk. Wuiiidih…maknyus.

Oh iya…aku juga punya dunia baru di Bogor. Dunia yang mengenalkanku pada indahnya alam yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Saat itu aku masih tingkat satu, ketika hendak berangkat ke kampus aku melihat selembar spanduk yang kalau dilihat mirip dengan robekan karung goni yang lusuh tidak kepalang. Di spanduk itu tertulis ajakan yang profokatif untuk ikut dan bergabung dalam sebuah lembaga pecinta alam yang dinamakan Lawalata IPB. Nah…sejak kecemplung bersama teman-teman penggila alam dan lingkungan ini, bisa dipastikan kalau sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi aku sedang berjalan menyusuri dan menekuri pojok demi pojok Gunung Salak nan elok itu. Bersama Lawalata juga aku mendapat kesempatan untuk menjelajahi Gunung di Jawa Barat hingga ke Kalimantan Barat, menapaki luasnya Taman Nasional Komodo di NTB dan mengenal indahnya kehidupan masyarakat adat di Banten Kidul. Tidak hanya kesenangan jalan-jalan, aku juga mendapatkan kebahagiaan memiliki persahabatan penuh makna dan yang paling aku syukuri adalah aku mendapatkan cinta baru.

Ahoy…Indah nian kota ini. Sejuta kisah dan pesonanya membuat jalinan pelangi di hatiku. Hmmm Buitenzorg…bagiku akan selalu ada rindu untukmu.